perjalanan mencari naskah kuno ke desa kuripan tentang sejarah naskah takapan
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum wr.wb.
Saya
Satya Wirayudha ingin berbagi cerita tentang perjalanan mencari naskah kuno
yang beralamatkan di daerah Kuripan, Lombok Barat, NTB.
Rabu,
23 Oktober 2019 tepatnya pukul 15.00 WITA. saya beserta teman-teman pergi untuk
observasi lapangan tentang mengkaji serta ikut melestarikan naska kuno takepan
Puspakarma yang ada di daerah Kuripan, Lombok Barat. Kami sebelumnya
diberitahukan oleh teman kami tentang dimana
terdapat tempat yang patut untuk dijadikan observasi lapangan mengenai
naskah kuno tersebut yakni pada daerah Kuripan, Lombok Barat, NTB. Nama tokoh
yang kita kunjungi di sana ialah bernama Lalu Upi atau lebih akrabnya dipanggil
Mamiq Upi. Beliau adalah satu-satunya yang masih memiliki peninggalan naskah
kuno dari peninggalan yang diturunkan mendiang nenek moyangnya di daerah tersebut. Naskah yang
dimilikinya dapat disebut dengan Takepan Puspakarma yang ditulis pada daun lontar
dengan menggunakan bahasa Jajawen Kuno atau mirip dengan Bahasa Jawa kawi Kuno tapi asli menggunakan Bahasa Jajawen kuno Sasak.
Di
Kediaman beliau kami diceritakan tentang sejarah naskah takepan puspakarma dan
apa manfaat dari naskah tersebut kita dijelaskan dengan rinci. Penjelasan
itulah yang masih membuat masyarakat percaya akan kesakralan dari naskah
tersebut. Tidak hanya itu kami juga diajarkan bagaimana cara membaca serta
menuliskan huruf-huruf jejawen sasak atau bahasa kawi Jawa Kuno meskipun dulu
kami juga pernah belajar dasar-dasarnya saja ketika masih sekolah dasar. Tidak
hanya belajar menulis kami juga diperlihatkan bagaimana cara menuliskan
huruf-huruf kawi tersebut di atas daun lontar dengan menggunakan alat khusus
seperti pisau kecil. Hal yang menarik untuk dipelajari bagi saya.
Setelah mendengar sejarah, serta belajar
cara tulis menulis kami pun dibacakan sedikit isi dari naskah takepan
puspakarma yang di dalamnya berisikan cerita kerajaan yang melegenda di pulau
Lombok. Cerita dari naskah tersebut digunakan untuk dibacakan pada tanaman padi
serta ternak agar hasilnya melimpah. Tidak hanya itu saja yang kami lakukan,
beliau juga menyuruh kami untuk melakukan proses Nyeput dalam arti proses
mengambil selember atau sehelai daun lontar kutipan naskah takepan puspakarma
tersebut dengan disertai niat yang tulus dalam diri sendiri. Hal itu akan
mendeskripsikan sesuatu hal yang terjadi pada diri sendiri di waktu yang akan
datang. Hal seperti itulah yang dipercaya oleh masyarakat di sana.
Takepan ini biasanya dibaca pada saat
malam yang paginya akan proses menanam padi demi kesuburan padi tentunya
mengharapkan hasil yang melimpah. Kesakralan lainnya juga dapat berfungsi pada
wanita yang mengalami kemandulan, dengan dibacakan takepan puspakarma ini
dipercaya segera dapat dikaruniai anak.
Menurut
paparan beliau takepan ini atau naskah puspakarma ini diperkirakan telah hidup
atau berumur kurang lebih 200 tahun lamanya yang diturunkan turun temurun dari
mendiang nenek moyangnya. Naskah ini dipercayai oleh masyarakat dengan
kesakralan masih berfungsi sebagai doa selamat ketika menanam padi agar hasil
panen nanti dipercaya melimpah.
Mungkin
hanya ini yang saya dapat ceritakan , semoga bermanfaat bagi pembaca maupun
saya sendiri,sekian dan terima kasih.wassalamualaikum
warrahmatullahi wabbarakatuh.


Kegiatan yg luar biasa sebagai generasi milineal yg cinta terhadao sastra dan budaya.
BalasHapusSumpah krenzz parah bang πππππ
BalasHapusMakasi bang, sangat membantu sekali π
BalasHapusWah ilmu yang bermanfaat
BalasHapusKeren Sat
BalasHapusLuar biasa saya kagum sama ilmu yang sangat penting ini semkga bermanfaat untuk kedepannya
BalasHapusYe moikk ne,bnyak dpet bnyak ilmu yg bermanfaat,kurangin ugalnya ya bang
BalasHapusMembantu sekali dalam menambah wawasan, terima kasih bro
BalasHapusBner2 bermanfaat ni aplgi buat kalangan milinial,keren bangππ
BalasHapusMakasi infonya. Sangat bermanfaat.
BalasHapusSukses selalu buat tugas kuliah kedepannya sodaraku
Terima kasih atas ilmunya.. Tulisannya sangatbermanfaat bagi manusia zaman now.. Teruslah memberikan informasi positif π
BalasHapusSemangat bro
BalasHapusSangat bermanfaat utk menambah wawasan budaya ��
BalasHapusKeren lanjutkan bang .
BalasHapusNunggu tulisan selanjutnya
siappp,,,
Hapusmantap mantap jari referensi
BalasHapuskerennn sihh ini, kembangkan budaya sasak
BalasHapusMantap utk ilmunya... sasak itu indah
BalasHapusIya buk iya
BalasHapusMantap artikelnya bang π
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBakalan sering liat blog kayak gini nih. .
BalasHapusTerimakasih sudah memberikan wawasan baru π
Mantap bung, di tunggu tulisan selanjutnya.
BalasHapusIni bagus sekali di jadikan referensi untuk menambah wawasan kita sebagai generasi milenial,Terimakasih salam lestari
BalasHapusDitunggu tulisan selanjutnyaaa kakπ
BalasHapusSaya berharap lontar itu diterjemahkan walaupun hanya satu Pupuh.
BalasHapusYang seperti ini perlu di sebar luaskan
BalasHapusBagus sekali ini infonya bang. Saya jd tau sejarah lontar itu apaπ ditunggu tulisan selanjutnya bang π
BalasHapusMantep nih, di era globalisasi bgni masih ada jg ya generasi muda yg ingin terus menyelamatkan budaya yg sudah susah payah diwariskan oleh para pendahulu yg tergerus oleh zaman. Patut di apresiasikan
BalasHapusTerimakasih ini sangat membantu
BalasHapusBagus, kembangkan..
BalasHapusmau dongg kenalan sm penulisnyaaπ€
BalasHapus